Pensiun

 

Berikut percakapan Beckham dengan Gary Neville yang telah diterjemahkan, seperti dikutip dari Sky Sports

Neville: Kau baru saja mengumumkan rencana pensiun. Kenapa memilih sekarang?

Beckham: Seseorang bisa tahu bahwa ia sudah siap untuk pensiun, dan aku rasa aku tahu kalau aku sudah siap. Ini keputusan sulit karena aku merasa masih bisa bermain di level tertinggi sepak bola, dan telah melakukannya selama enam bulan terakhir. Tapi, diam-diam aku selalu berkata kepada diriku sendiri kalau aku ingin berhenti saat berada di level tertinggi. Jika delapan bulan lalu kau mengatakan bahwa aku akan bermain di Liga Perancis, memenangkan Piala Perancis dan liga serta berhenti seperti ini, mungkin aku tak akan pensiun. Tapi, aku punya kesempatan bermain di PSG dan aku merasa ini waktu yang sangat tepat.

Neville: Apa itu menurutmu saja atau kau memang sudah tahu?

Beckham: Menurutku. Aku sangat mencintai sepak bola. Aku hanya merasa bahwa ini adalah waktu yang tepat. Aku percaya ini waktu yang tepat dan aku selalu merasa aku bisa melakukannya — itulah masalahnya.

Neville: Kapan pemikiran itu akhirnya datang?

Beckham: Mungkin saat Lionel Messi berlari melewatiku, hahaha. Sebenarnya aku tak tahu. Aku hanya merasa aku sangat beruntung sepanjang karierku. Aku beruntung karena bisa bermain di klub-klub tempatku bermain. Bisa bermain bersama rekan-rekan setimku, serta memenangi trofi. Dengan bermain di MLS dan memenangkan kejuaraan tahun lalu, serta bermain untuk PSG dan memenangkan liga, aku rasa ini cara yang tepat untuk ku mengakhiri karier.

Neville: Kau selalu meninggalkan klub dengan prestasi. Memenangkan Premier League dengan Manchester United, menjuarai MLS dengan LA Galaxy tahun lalu. Apakah memenangkan Liga Perancis bersama PSG musim ini penting buatmu?

Beckham: Kurasa sudah menjadi mimpi setiap atlet, setiap pemain sepak bola, untuk berhenti di level tertinggi klub atau memenangkan trofi. Itu tak banyak terjadi, tapi aku beruntung bisa merasakannya. Saat aku meninggalkan MU, kita memenangkan Premier League. Saat aku meninggalkan Madrid, kami memenangkan La Liga. Lalu, aku meninggalkan Galaxy setelah memenangkan kejuaraan dua tahun berturut-turut dan kemudian bermain di PSG dan memenangkan Ligue 1. Ini cara yang menyenangkan untuk pensiun. Semua orang akan mengenangnya, dan pencapaian tersebut akan tercatat. Mudah saja, kau pergi sebagai juara, dan karena itulah aku merasa ini waktu yang tepat.

Neville: Bagaimana kau ingin dikenang sebagai pemain sepak bola dan sebagai individu setelah karier selama 22 tahun, serta semua yang kau raih?

Beckham: Aku hanya ingin dipandang sebagai pemain yang bekerja keras. Seseorang yang berdedikasi pada sepak bola dan seseorang yang selalu memberikan upaya terbaik saat berada di lapangan, karena itulah yang aku rasakan. Bermain dalam pertandingan di akhir karierku, seperti itulah aku akan mengenangnya dan berharap orang lain juga melihatku dengan sudut pandang yang sama.

Aku rasa sepak bola sudah menjadi hidup dan karierku selama bertahun-tahun. Orang-orang telah melihat sisi lain yang terjadi di karierku dan terkadang itu membuat mereka luput melihat upayaku di lapangan, atau prestasi yang kutorehkan. Walau aku bisa saja mengatakan sebaliknya, tentu itu menyakitkan.

Pada akhirnya aku adalah pesepak bola dan telah bermain untuk beberapa klub terbesar dunia dan bermain bersama beberapa pemain terbaik; dilatih oleh beberapa manajer terbesar dan terbaik, serta mencapai nyaris segalanya di sepak bola. Aku rasa tentu menyakitkan jika orang-orang malah memikirkan hal lain, dan bukan mempertanyakannya.

Berada di penghujung karierku, aku akan mengenang segalanya dan berkata bahwa aku sudah mencapai segalanya dengan setiap klub tempatku pernah bermain. Aku bermain untuk Inggris sebanyak 115 kali; menjadi runner-up World Player of the Year dua kali dan dikalahkan dua pemain hebat; aku sangat bangga.

Bisa dikatakan, tak ada satupun pemain sepak bola yang mampu menyamai apa yang telah David Beckham capai. Jika sedikit menyinggung apa yang disampaikannya di dalam wawancara tersebut; “aku rasa tentu menyakitkan jika orang-orang malah memikirkan hal lain”, memang, tak banyak orang atau bahkan penggemarnya yang selalu membahas prestasinya. Menurutku ini juga tidak salah. Seorang David Beckham banyak dinilai dari sisi luar maupun di dalam lapangan. Di luar lapangan karena sebab dari dalam lapangan juga. Era 90-an, dimana tak banyak pemain sepak bola yang dianggap “ganteng” oleh wanita, dimana saat itu juga hanya wajah penyanyi Boyband yang paling nyaman untuk ditonton, disitulah David Beckham membius dengan wajah yang hampir mirip Nick Carter. Anggota dari Backstreet Boys yang sedang digilai karena wajah-wajah personilnya, tapi bedanya dia sedang menghadapi pagar betis di tengah-tengah lapangan Old Trafford. Penggemarnya dari kaum wanita tentu tak banyak yang membahas konflik antara Beckham dengan Diego Simeone di Prancis 98, apalagi sampai menjadi pembicaraan penting di jam-jam pelajaran sekolah. Sadar atau tidak, 90-an adalah awal dimana wanita mulai menonton sepak bola di TV dan mulai bertanya, apa itu offside dan semua itu karena David Beckham.

Tentu masih banyak yang ingat, bagaimana sebuah klub yang sekarang dinobatkan oleh Forbes menjadi klub terkaya di dunia, pernah begitu sukses menjual seragam resmi bahkan tiruan dengan nomor punggung ‘7’ nya. Sebuah era dimana seragam klub mulai laris dan menjadi lahan bisnis serius yang bisa dijual. Cantona? Bukan. Bukan Cantona tulisan di atas nomor ‘7’ itu. Tapi Beckham.

Menikahi seorang penyanyi superstar Inggris? Victoria dan David menikah, bukan sekedar kumpul satu atap dan pernikahan itu juga menjadi trend di kalangan model yang saat itu menganggap pemain sepak bola tidak menarik, bahwa punya pasangan seorang pemain sepak bola jauh lebih menjanjikan daripada berharap banyak pada anak Ratu Inggris. Maka, pemain-pemain seperti Peter Crouch patut berterima kasih kepada Beckham karena telah mengangkat mentalnya dengan memiliki pasangan seorang model cantik walaupun “modal” nya hanya status pemain sepak bola.

Masih banyak cerita di luar lapangan yang berasal dari dalam lapangan, tentu karena Beckham adalah seorang maestro umpan lambung dan tendangan bebas, dianggap memanjakan penyerang-penyerang yang diberinya kesempatan mudah untuk mencetak gol. Tentu saja termasuk nilai kontraknya dengan produsen alat olahraga yang sampai akhirnya dia pensiun di umur 38 Tahun masih jauh lebih tinggi dibandingkan Messi yang sama-sama dibiayai oleh produsen tersebut.

Terima kasih Sir David Robert Joseph Beckham, anda adalah contoh yang sangat baik bagi banyak orang; prestasi, keluarga dan dipoles dengan materi. Termasuk aku. Anda juga adalah alasan bagiku dulu pertama kali mengenal sepak bola.

David Beckham -- Manchester United 1994

David Beckham — Manchester United 1994 | sumber: www.reveal.co.uk

2 thoughts on “Pensiun

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *