Karisma, krisis, kepentingan dan hilang

Ketika ditulis dalam bahasa Cina, ‘krisis’ terdiri dari dua karakter — satu mewakili bahaya dan yg satunya mewakili kesempatan.

John Fitzgerald Kennedy

Kennedy yg terpilih sebagai Presiden Amerika di Tahun 1961 menjanjikan sebuah Amerika baru yang lebih bergairah. Namun, krisis-krisis yang paling serius harus dihadapi oleh pemerintahan yang baru itu. Salah satunya adalah perang dingin dengan Uni Sovyet.

Pemicu awalnya adalah tindakan pasukan Sovyet dan Jerman Timur yang mulai membangun sebuah tembok beton yang tingginya hampir setinggi bangunan dua lantai. Tembok itu membelah pusat kota Berlin, yang menggambarkan pemisahan Jerman paska-perang dan secara efektif menutup perbatasan antara Jerman Barat dengan Jerman Timur. Dikemudian hari tembok ini disebut Tembok Berlin.

Kesulitan lain yang dihadapi Kennedy adalah  sebuah negara Karibia bernama Kuba. Dimana pemimpinnya yang begitu didukung Uni Sovyet bernama Fidel Castro mengambil alih kekuasaan di Tahun 1959. Pada April 1961, Kennedy mensponsori invasi Amerika Serikat ke Kuba melalui Teluk Babi, tapi gagal. Akibat dari serangan ini, Sovyet memasang peluru-peluru kendali jarak lengkap dengan kepala nuklir di Kuba. Peluru-peluru kendali ini dapat menghancurkan kota-kota besar di Amerika hanya dalam waktu singkat. Disadari Kennedy, hal ini merupakan ancaman langsung terhadap keamanan rakyatnya.

Lanjut membaca

Pelancong

Selain mencari makanan — bekerja, mudahnya — barangkali bepergian ke tempat lain adalah yang pasti dilakukan manusia ketika tidak sedang menganggur. Tempat-tempat wisata, daerah yang bukan sebagai pusat jual-beli, kota yang tak banyak orang yang dikenal, kampung halaman, atau bisa jadi daerah yang belum pernah didatangi. Melancong adalah bagian dari anggaran yang disiapkan orang-orang yang bekerja, ada juga sebagai bagian dari pekerjaan.

Tidak semua hal yang dilakukan harus dijelaskan tujuannya dan hasilnya. Bagi orang-orang yang memilih sering dan menjadikan hobi, mendatangi tempat-tempat asing adalah kepuasan. Bagi orang-orang yang butuh sesuatu yang baru dari rutinitas yang tiap hari dijalani, bepergian mampu menyegarkan suasana hati dan pikiran. Bedanya, bagi yang sering, melancong seperti candu, terus dan terus dilakukan. Bukan karena sedang hari libur atau ada promosi tiket transportasi murah. Mereka melakukan untuk kepuasan. Sedangkan bagi mereka yang melakukan perjalanan sesekali, segala persiapan dan anggaran direncanakan dengan matang. Walau tujuannya terkadang sama saja.

Ketika internet belum begitu populer, pelancong bisa mendapat informasi dari majalah-majalah, buku-buku dari penulis yang juga pelancong juga saran orang lain. Setelah itu, banyak tempat baru yang mudah diakses sebelum benar-benar berada di tempat itu. Banyak blog-blog pelancong — Traveler, begitu sebutan populernya saat ini — bertebaran di internet. Lengkap dengan rekap anggaran, keterangan tempat, transportasi, sampai poto.

Lanjut membaca

Agama dan hal-hal yang tak terselesaikan (1)

Masuk waktu dzuhur di mesjid, ketika semua orang yang ada di dalamnya bersiap merapatkan barisan ke saf paling depan setelah mendengar suara khomat. Tidak seperti yang lain, beberapa orang berpakaian serba hitam — seperti pakaian gamis — dengan penutup kepala yang sama dengan masing-masing warna yang berbeda malah memilih berdiam diri di barisan belakang. Setelah imam mengucap takbir, aku sendiri tak lagi melihat kebelakang, melihat apa yang sekitar 15-an orang itu lakukan. Dzuhur berjamah selesai, aku juga selesai dan membalikkan badan. Tampak orang-orang berpakaian hitam tadi memulai solat berjamaah dengan imam yang juga dari kelompok mereka. Tidak mengherankan jika mereka melakukan solat berjamaah di mesjid. Tidak juga aneh kalau solat berjamaah tidak bersama jemaah lain, barangkali mereka terlambat dan lebih memilih menunggu yang tidak terlambat selesai kemudian mereka membentuk solat berjamaah yang baru. Aneh, karena mereka bisa ikut jemaah dengan (kelompok) lain — yang tidak berpakaian serba hitam.

Kemudian, suatu sore di toko kelontong. Seorang laki-laki tua dengan peci putih yang sedang membeli sebungkus rokok terdengar sedang mencurahkan isi kepala ke pemilik toko. Ketika aku datang, aku hanya mendengar dia berkata, “coba negara ini pakai sistem ekonomi dan hukum Islam, gak bakal kayak sekarang ini susahnya”. Mendengar itu, yang tadinya aku tidak peduli dengan ocehan laki-laki tersebut malah menyaut, “Bapak tau Swiss? Swedia? Jepang? Australia?. Mereka tidak menganut sistem ekonomi islam dan hukum islam. Kalau bapak baca koran atau lihat TV, pernah bapak baca atau dengar negara-negara itu susah? Atau paling tidak menurut bapak, mana lebih baik ekonomi mereka dengan Iran yang menganut hukum dan ekonomi Islam?” Bapak itu kemudian pergi.

Kemudian, suatu siang ketika sedang duduk di rumah seorang kawan. Terdengar seorang ibu-ibu berlogat batak sedang memanggil tetangga dari kawan ini. Ibu tadi rupanya hendak membeli es batu. Tak lama transaksi kecil itu terjadi lantas ibu yang membeli es batu tadi pergi. Tak lama, tetangga kawan — juga seorang ibu-ibu yang sepertinya hendak pergi mengaji — berjalan melewatiku dan kawan yang sedang duduk, sambil nyeletuk, “kalau sama batak satu itu jangan jual gopek es-nya. Batak satu itu pelit kali”

Lanjut membaca

Pensiun

 

Berikut percakapan Beckham dengan Gary Neville yang telah diterjemahkan, seperti dikutip dari Sky Sports

Neville: Kau baru saja mengumumkan rencana pensiun. Kenapa memilih sekarang?

Beckham: Seseorang bisa tahu bahwa ia sudah siap untuk pensiun, dan aku rasa aku tahu kalau aku sudah siap. Ini keputusan sulit karena aku merasa masih bisa bermain di level tertinggi sepak bola, dan telah melakukannya selama enam bulan terakhir. Tapi, diam-diam aku selalu berkata kepada diriku sendiri kalau aku ingin berhenti saat berada di level tertinggi. Jika delapan bulan lalu kau mengatakan bahwa aku akan bermain di Liga Perancis, memenangkan Piala Perancis dan liga serta berhenti seperti ini, mungkin aku tak akan pensiun. Tapi, aku punya kesempatan bermain di PSG dan aku merasa ini waktu yang sangat tepat.

Neville: Apa itu menurutmu saja atau kau memang sudah tahu?

Beckham: Menurutku. Aku sangat mencintai sepak bola. Aku hanya merasa bahwa ini adalah waktu yang tepat. Aku percaya ini waktu yang tepat dan aku selalu merasa aku bisa melakukannya — itulah masalahnya.

Neville: Kapan pemikiran itu akhirnya datang?

Beckham: Mungkin saat Lionel Messi berlari melewatiku, hahaha. Sebenarnya aku tak tahu. Aku hanya merasa aku sangat beruntung sepanjang karierku. Aku beruntung karena bisa bermain di klub-klub tempatku bermain. Bisa bermain bersama rekan-rekan setimku, serta memenangi trofi. Dengan bermain di MLS dan memenangkan kejuaraan tahun lalu, serta bermain untuk PSG dan memenangkan liga, aku rasa ini cara yang tepat untuk ku mengakhiri karier.

Neville: Kau selalu meninggalkan klub dengan prestasi. Memenangkan Premier League dengan Manchester United, menjuarai MLS dengan LA Galaxy tahun lalu. Apakah memenangkan Liga Perancis bersama PSG musim ini penting buatmu?

Beckham: Kurasa sudah menjadi mimpi setiap atlet, setiap pemain sepak bola, untuk berhenti di level tertinggi klub atau memenangkan trofi. Itu tak banyak terjadi, tapi aku beruntung bisa merasakannya. Saat aku meninggalkan MU, kita memenangkan Premier League. Saat aku meninggalkan Madrid, kami memenangkan La Liga. Lalu, aku meninggalkan Galaxy setelah memenangkan kejuaraan dua tahun berturut-turut dan kemudian bermain di PSG dan memenangkan Ligue 1. Ini cara yang menyenangkan untuk pensiun. Semua orang akan mengenangnya, dan pencapaian tersebut akan tercatat. Mudah saja, kau pergi sebagai juara, dan karena itulah aku merasa ini waktu yang tepat.

Neville: Bagaimana kau ingin dikenang sebagai pemain sepak bola dan sebagai individu setelah karier selama 22 tahun, serta semua yang kau raih?

Beckham: Aku hanya ingin dipandang sebagai pemain yang bekerja keras. Seseorang yang berdedikasi pada sepak bola dan seseorang yang selalu memberikan upaya terbaik saat berada di lapangan, karena itulah yang aku rasakan. Bermain dalam pertandingan di akhir karierku, seperti itulah aku akan mengenangnya dan berharap orang lain juga melihatku dengan sudut pandang yang sama.

Aku rasa sepak bola sudah menjadi hidup dan karierku selama bertahun-tahun. Orang-orang telah melihat sisi lain yang terjadi di karierku dan terkadang itu membuat mereka luput melihat upayaku di lapangan, atau prestasi yang kutorehkan. Walau aku bisa saja mengatakan sebaliknya, tentu itu menyakitkan.

Pada akhirnya aku adalah pesepak bola dan telah bermain untuk beberapa klub terbesar dunia dan bermain bersama beberapa pemain terbaik; dilatih oleh beberapa manajer terbesar dan terbaik, serta mencapai nyaris segalanya di sepak bola. Aku rasa tentu menyakitkan jika orang-orang malah memikirkan hal lain, dan bukan mempertanyakannya.

Berada di penghujung karierku, aku akan mengenang segalanya dan berkata bahwa aku sudah mencapai segalanya dengan setiap klub tempatku pernah bermain. Aku bermain untuk Inggris sebanyak 115 kali; menjadi runner-up World Player of the Year dua kali dan dikalahkan dua pemain hebat; aku sangat bangga.

Bisa dikatakan, tak ada satupun pemain sepak bola yang mampu menyamai apa yang telah David Beckham capai. Jika sedikit menyinggung apa yang disampaikannya di dalam wawancara tersebut; “aku rasa tentu menyakitkan jika orang-orang malah memikirkan hal lain”, memang, tak banyak orang atau bahkan penggemarnya yang selalu membahas prestasinya. Menurutku ini juga tidak salah. Seorang David Beckham banyak dinilai dari sisi luar maupun di dalam lapangan. Di luar lapangan karena sebab dari dalam lapangan juga. Era 90-an, dimana tak banyak pemain sepak bola yang dianggap “ganteng” oleh wanita, dimana saat itu juga hanya wajah penyanyi Boyband yang paling nyaman untuk ditonton, disitulah David Beckham membius dengan wajah yang hampir mirip Nick Carter. Anggota dari Backstreet Boys yang sedang digilai karena wajah-wajah personilnya, tapi bedanya dia sedang menghadapi pagar betis di tengah-tengah lapangan Old Trafford. Penggemarnya dari kaum wanita tentu tak banyak yang membahas konflik antara Beckham dengan Diego Simeone di Prancis 98, apalagi sampai menjadi pembicaraan penting di jam-jam pelajaran sekolah. Sadar atau tidak, 90-an adalah awal dimana wanita mulai menonton sepak bola di TV dan mulai bertanya, apa itu offside dan semua itu karena David Beckham.

Lanjut membaca

1909

Garis besar Teori Umum Relativitas dari maha karya Albert Einstein adalah jika suatu materi dirubah menjadi energi, maka energi yang dilepaskan dapat ditunjukkan dalam sebuah rumus yang “kelihatannya” sederhana; E = mc2, dimana E mewakili Energi, M adalah Massa dan C adalah Kecepatan (cahaya). Dengan teori — rumus — ini memperlihatkan bahwa massa yang kecil dapat dirubah menjadi energi yang besar.

Masa lalu orang percaya bahwa bumi berbentuk datar dan siapa saja yang mempertanyakan keyakinan itu dianggap menyimpang, termasuk keyakinan bahwa bumi merupakan pusat alam semesta. Sampai abad ke-20, orang menganggap waktu bersifat mutlak, adalah jam yang jika disetel dengan benar maka akan berjalan dengan kecepatan yang sama dimanapun dan bahwa cahaya berjalan lurus mengikuti garis.

Lanjut membaca